Disclaimer: Narasi ini ditulis Ibu setelah mengobrol denganku.
Dua hari lalu, kudapati diriku berkata “ya” saat diminta untuk membacakan narasi tentangmu.
Tak lama sesudahnya, kudapati diriku berpikir ulang, apa sebenarnya yang kutahu tentang dirimu.
Aku mengaku, aku lebih banyak menonton film dan membaca novel daripada membaca buku tentangmu.
Secuil kisahmu pernah kubaca bersama kakak-kakakku dalam reading session setelah magrib.
Namun semua seperti berlalu begitu saja.
Beberapa kali ibuku bercerita tentang peristiwa fadak, selalu mengajakku bersolawat kepadamu setelah salat, atau mengajakku membaca buku tentangmu.
Namun, kudapati buku itu tak semenarik komik-komik digital yang sedang kugemari.
Lantas sekarang ini, saat aku berada di hadapan para pencintamu, aku jadi ragu.
Apakah aku benar-benar mengenalmu?
Tunggu dulu.
Sebenarnya tanpa kusadari, sejak kecil aku mengenalmu. Namamu selalu hadir, walau tidak selalu melalui buku atau majelis ilmu.
Jadi begini.
Sejak aku masih belajar puasa, setiap aku tamat puasa hari itu, baik puasa wajib atau sunnah, ibuku akan berseru lantang, “ya Sayyidah Fathimah, ya Sayyidah Zaynab. Qosima Luthfa Anvari puasa!”
Lalu ibu akan menyambungnya dengan ucapan bahwa puasaku adalah hadiah untukmu dan untuk putrimu.
Lalu ibu akan menyebut-nyebut kemuliaanmu, bahwa berpuasa adalah kebiasaanmu.
Lalu ibu akan memelukku dan menciumku sambil menyelamatiku.
Saat aku masih kecil, aku senang dan bangga sudah kuat berpuasa. So simple, right?
Pernah suatu saat aku berpuasa dan Ibu tidak berseru, salah satu kakakku bertanya, mengapa ibu tidak berseru, mengapa tidak melaporkan puasaku kepadamu.
Lalu segera kudengar seruan itu, “ya Sayyidah Fathimah, ya Sayyidah Zaynab. Qosima Luthfa Anvari puasa!”
Kebiasaan berseru itu dimulai ketika aku masih kecil—aku lupa persisnya kapan.
Bukan hanya untuk puasa.
Ketika aku melakukan kebaikan, ibu biasa berseru seperti itu.
Kadang aku merasa bahwa ibu agak lebai, memamerkan kebaikanku padamu.
Pernah aku penasaran apa tujuannya, tetapi aku tidak pernah membahasnya.
Lantas kudapati ternyata diriku suka ketika ibu melakukannya.
Sebelumnya aku puasa simply karena aku harus puasa.
Sejak ibu punya kebiasaan berseru kepadamu, aku jadi merasa puasaku punya tujuan.
Aku jadi merasa hal-hal baik yang kulakukan memiliki tujuan.
Aku merasa terhubung denganmu, dengan putrimu, walau aku tidak serajin itu berusaha mengenalmu atau berusaha belajar tentangmu.
Aku merasa menjadi bagian dari kemuliaanmu, kemuliaan putrimu, walau hanya melalui seruan, “ya Sayyidah Fathimah! ya Sayyidah Zaynab!
(Monolog ini dibacakan oleh Qosima, 16 tahun, pada majelis Syahadah Sayyyidah Fathimah as tanggal 17 Desember 2023)
Sumber gambar: https://iric.org/making-ramadan-fasting-easy-for-children/