Halaqoh Kubro KUPI telah usai menjelang malam Senin ini. Banyak peserta yang sudah berhamburan menuju Stasiun Tugu atau bandara. Suasana rindu keluarga seakan menjadi tsunami cerita diantara peserta Halaqoh Kubro yang memang kebanyakan adalah para ibu yang dengan berat hati meninggalkan keluarga, anak serta pasangan masing-masing, demi suksesnya sebuah perhelatan nasional. Dan aku? Sepertinya aku adalah seorang dari sedikit peserta yang harus menahan kepulangan ke Bandung. Malam ini aku masih harus menahan diri di hotel tempatku menginap karena masih ada satu agenda penting yang tidak kalah pentingnya dengan perhelatan Halaqoh Kubro KUPI yang baru saja usai.
Senin pagi udara Yogya terasa hangat, sangat kontras dengan cuaca beberapa hari yang lalu. Yogya yang panas beberapa hari lalu saat pelaksanaan Halaqoh Kubro nyaris setiap hari diguyur hujan. Bahkan di hari Sabtu, Yogya diguyur hujan seharian tanpa jeda. Hujan seakan ingin menemani kami yang sedang alot di ruang ruang diskusi. AC ruang diskusi yang sudah di setel dengan suhu dingin pun rasanya tidak membuat dingin kepala. Karena kami terus dituntut untuk merumuskan hal mengenai keputusan selanjutnya, yang akan dibawa dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia tahun 2027. Halaqoh Kubro adalah jembatan inspirasi banyak perempuan, harapan banyak perempuan yang menuntut kesamaan dalam mempresentasikan diri nya sebagai seorang ulama.
Sarapan yang disajikan di resto University Hotel Senin pagi ini tidak terlalu banyak variasinya. Hotel ini merupakan tempat persinggahan bagi para dosen yang dari luar kota yang akan melakukan penelitian, sehingga tamu yang menginap pun tidak terlalu banyak. Saat perhelatan cukup besar hotel ini menjadi kebanjiran tamu, alhasil menu sarapan pun semakin bervariasi. Soto ayam menemani obrolan ringan namun hangat dengan beberapa tokoh ulama perempuan dari Lombok, Sulawesi Selatan dan beberapa dari kota Indonesia timur. Obrolan pagi itu kemudian mengerucut pada isu-isu yang seringkali menghantam jamaah perempuan ahlul bayt, di antaranya isu tentang nikah mut’ah. Ini adalah kesempatan bagiku untuk menjelaskan kepada mereka yang selama ini tidak memahami bahkan memberikan stigma tidak menyenangkan terhadap nikah mut’ah. Maka mengalirlah diskusi ringan namun penuh makna di antara kami. Sampai kemudian ada salah seorang perempuan muda dari Lombok mengajakku mengobrol secara pribadi. Dalam obrolan yang ringan itu terselip bahwa dia ingin tahu lebih banyak tentang perempuan ahlul bayt (saya sengaja menggunakan diksi ini). Di akhir obrolan ia mengatakan, “Kalau tidak bertemu dengan Ibu Euis, yang santai seperti ini pikiran saya tentang perempuan ahlul bayt tidak akan pernah bergeser. Selama ini, dalam pandangan saya perempuan ahlul bayt adalah mereka yang menggunakan cadar untuk menutup mukanya, berpikiran ekstrem, dan mereka menikah mut’ah untuk menutupi kebiasaan berzina (naudzubillah min dzalik) atau untuk melegalkan banyak laki-laki berpoligami.”

Sebelum siang, aku sudah dijemput oleh Mbak Ita (perempuan luar biasa yang juga seorang juragan cendol geboy) untuk agenda yang tidak kalah pentingnya dengan Halaqoh Kubro, yaitu bertemu dengan teman-teman Fathimiyyah Yogya dan Solo. Menyerap dan mendengar persoalan yang terjadi di tubuh Fathimiyyah Yogya dan Solo adalah misiku saat ini. Dalam perjalanan yang memakan waktu sekitar tiga puluh menit, diselingi dengan obrolan ringan yang mengalir begitu saja yang mengurai rasa rindu di antara kami yang sudah sekian lama tidak berjumpa.
Sambil menunggu teman-teman Solo yang masih dalam perjalanan, aku diajak oleh tuan rumah untuk melihat sekitar rumahnya yang semakin terasa sejuk, mengurangi gerah cuaca Yogya yang cukup menyengat, karena banyak pohon di sekitarnya, bahkan aku pun melihat pohon rambutan yang sedang berbah cukup lebat. Berkeliling di kebun belakang rumahnya membawa nuansa yang cukup kontras dengan suasana kota Yogya yang gerah. Kebun yang dipenuhi oleh pohon suji dan pohon pandan (jenis daunnya digunakan sebagai pewarna dan pewangi cendol) diselingi oleh banyak pohon lainnya, menjadikan halaman belakang menjadi penuh dan sejuk.
Kehadiran Mba Ary (Fathimiyyah Yogya) dan Mba Ria Maran (istri Ketua Tanfidziyah IJABI, yang sekarang bermukim di Kutoarjo) menghentikan obrolan kami seputar kebun jagung yang sedang direncanakan oleh Mbak Ita yang juga memiliki rencana menjadikan lahan belakang rumahnya sebagai lahan peternakan ayam petelur. Kehadiran kedua teman Fathimiyyah ini tidak lama kemudian disusul oleh teman-teman dari Solo yang datang berombongan sebanyak lima orang, dengan Mbak Indah sebagai driver-nya. Kehadiran teman-teman Fathimiyyah Solo semakin menambah seru obrolan kami. Diselingi dengan minum cendol khas Mbak Ita, aku mencoba menyerap beberapa persoalan yang saat ini terjadi di seputaran jamaah IJABI Yogya dan Solo.
Dari obrolan yang santai namun serius ini, tertangkap sebuah fenomena yang bahkan dialami oleh banyak jamaah daerah lainnya, terlebih di Yogya dan Solo yang relatif jauh dari jangkauan Dewan Syuro. Persoalan yang mengemuka adalah banyaknya lahir organisasi yang mengaburkan keberadaan IJABI maupun ormas ahlul bayt lainnya. Dan banyaknya orang-orang yang menggiring opini bahwa IJABI tidak mampu berbuat banyak untuk jamaah yang kekurangan secara finansial. Itu juga yang menyebabkan jumlah jamaah Yogya dan Solo semakin hari semakin berkurang. Di tengah gempuran opini yang menyudutkan IJABI dan terjadinya krisis kegiatan, menjadi salah satu penyebab berkurangnya jamaah. Pada akhirnya, banyak jamaah yang mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh kelompok-kelompok tersebut. Namun demikian aku sempat bernapas lega, di tengah kebingungan teman-teman Fathimiyyah, mereka mau bertanya dan mencari tahu sejauh mana mereka bisa bergaul dan menjaga silaturahmi dengan orang-orang yang berusaha menjauhkan hati mereka dari IJABI.
Di tengah-tengah menikmati segelas cendol dan sepiring batagor geboy, aku tawarkan program basic konseling yang saat ini sudah menjadi program utama PP Fathimiyyah. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, teman-teman hanya menginginkan mereka sering dijenguk, baik dalam bentuk online atau offline, karena hanya itu yang dapat menguatkan posisi teman-teman Fathimiyyah Yogya dan Solo saat ini.
Acara kemudian beralih ke rumah Mbak Ary, sembari menikmati segelas jus buah yang disajikan oleh sang suami, dan memilih sendiri topping seblak prasmanan yang selama ini menjadi usaha Mbak Ary. Semangkok seblak dan segelas jus buah kemudian membawa kami pada obrolan perjalanan usaha teman-teman Yogya dan Solo. Mbak Indah dengan segudang cerita jatuh bangun usaha dasternya, Mbak Ita dengan cerita Griya Si Geboy, dan Mbak Ary dengan cerita seblak prasmanannya. Ditambah dengan cerita Mbak Rela, Mbak Habibah, Mbak Devi dan Mba Nuning tentang jatuh bangunnya usaha masing-masing. Ahhh, cerita yang sangat menyergap sisi lain dari diri ini, yang sampai hari ini masih belum kesampaian untuk memiliki usaha sendiri.. semoga suatu saat terwujud…Dengan diantar mobil grandmax yang disupiri Mbak Ita, aku menuju Stasiun Tugu untuk pulang ke Bandung, mengakhiri perjalanan selama empat hari di Yogya dengan agenda yang sangat padat namun menyenangkan. Pukul 22.16 kereta Mutiara Selatan membawaku dalam perjalanan ke Bandung. Perjalanan yang sarat dengan cerita dan pengalaman yang sangat berharga. Bertemu dengan banyak perempuan luar biasa dari berbagai latar belakang dan berbagai kota di Indonesia di acara Halaqoh Kubro adalah pengalaman yang tidak semua orang dapatkan dan pastinya sangat berharga. Proses mendengar dan menyerap berbagai persoalan di tubuh Fathimiyyah pun merupakan pengalaman berharga lainnya. Jeda sebentar untuk menyerap energi agar mampu bercerita dan menuliskan sedikit pengalaman berharga ini adalah sebuah langkah yang aku ambil untuk sedikit bernapas.
Reportase oleh Euis Mimin

