Ada ungkapan jika ingin tahu dalamnya sumur, bertanyalah kepada timbanya. Sekadar menjembatani generasi alpha yang mungkin belum pernah melihat sumur dan timba, sumur bermakna seseorang dengan kedalaman ilmu, sedangkan timba adalah orang yang selalu berinteraksi dengan “sumur” itu. Jika ingin mengetahui kedalaman ilmu, pemikiran, dan sifat seseorang, hendaklah kita bertanya kepada orang yang sehari-hari hidup bersamanya. Karena sebagaimana sumur, kedalamannya tak selalu terlihat dari luar. 

Adapun Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. atau Cak Nur, dengan sekali klik kita bisa mendapatkan informasi tentang riwayat hidup, pemikiran, kiprah, dan legacy beliau sebagai cendekiawan, budayawan, dan pejuang. Buku dan pemberitaan di berbagai media mencatat sumbangsih hingga kontroversi yang dikaitkan dengan nama Cak Nur. Sejumlah institusi dan organisasi disandarkan kepada nama beliau. 

Meski begitu, ada hal-hal mendasar tentang Cak Nur yang tak banyak terlihat dan terdengar oleh pemberitaan media. Sebagaimana kedalaman sumur yang hanya diketahui oleh timbanya, ada beberapa cerita khusus yang dibagikan oleh Bu Omi Komariah Madjid tentang Cak Nur. 

Bermula dari surat lamaran yang dikirimkan Cak Nur dari Kota Suci Mekkah, Bu Omi mengawali pernikahan seorang Nurcholish Madjid. Pernikahan ini berangkat dengan komitmen untuk tidak egois, tidak hanya memikirkan rumah tangga sendiri, dan tetap bersedia berjuang. Dengan komitmen itu juga Bu Omi menemani perjalanan keilmuan dan pejuangan Cak Nur yang berliku-liku. Waktu Cak Nur mendapatkan beasiswa S3 di Amerika, misalnya, Bu Omi sempat menjadi babysitter dan petugas cleaning service di sana. “Beasiswa tidak cukup untuk hidup kami sekeluarga. Jadi, saya bekerja agar Cak Nur bisa tenang belajar dan nilainya bagus.”  Meski begitu, ketika ada rezeki dan mereka bisa beli daging, misalnya, Cak Nur selalu berkata, “Mama dan anak-anak saja yang makan.” 

Tahun demi tahun berlalu, studi pun tuntas. Begitu pulang ke Indonesia, Cak Nur langsung disambut oleh berbagai kegiatan. Walau waktu untuk berada di rumah terbatas, perhatian Cak Nur kepada keluarga dan tetangga tidak kendur. Khusus tentang bertetangga, Cak Nur memiliki pendekatan unik. Kata Cak Nur kepada Bu Omi, “Mama, ketika salat, Mama mengawalinya dengan menyebut Allahu Akbar, lalu mengakhirnya dengan mengucapkan salam sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah menghadap Allah, kita harus kembali kepada manusia yang ada di kanan dan kiri kita, jangan sampai tetangga luput dari perhatian kita.”

Cak Nur selalu mendorong Bu Omi untuk menjaga silaturahmi. Jika Bu Omi terlihat lama tidak menelepon salah satu teman, misalnya, Cak Nur biasa bertanya, “Rasanya sudah lama Mama tidak menelepon teman Mama itu. Coba telepon barang sebentar, sekadar say hello.” Kebiasaan menghidupkan itulah yang hingga saat ini terus diupayakan oleh Bu Omi sepeninggal Cak Nur. Berkomunikasi dengan teman-teman lama dan baru membuat Bu Omi tetap segar hingga kini di usia 70-an tahun. 

Hal lain yang diceritakan oleh sang “timba” adalah kelembutan Cak Nur. Suatu saat Cak Nur mengantarkan Bu Omi ke sebuah acara. Di depan lokasi acara itu ada sebuah kios kecil. Alih-alih langsung berhenti, Cak Nur terus melaju dan membawa Bu Omi agak jauh dari lokasi acara. Saat Bu Omi bertanya, ujar Cak Nur, “Di depan lokasi ada kios rokok. Kalau kita berhenti di sana dan Mama turun, nanti pemiliknya menyangka Mama akan beli, lalu dia kecewa. Jadi, Mama jalan sedikit dari sini tidak apa-apa, ya. Itung-itung olahraga.”

Cerita berikutnya terjadi di rumah. Kadang meja dapur didatangi semut. Kata Cak Nur, “Kita yang kurang rapat menutup makanan. Jangan ganggu semutnya. Rapikan saja makanannya.” Pada saat lain, ketika Bu Omi ketakutan melihat ulat di halaman, yang dilakukan Cak Nur adalah berkeliling sejenak. Begitu menemukan ranting, Cak Nur memungut ulat itu dan meletakkannya di pohon, “Tidak usah dinggangu, Ma. Nanti dia jadi kupu-kupu.”

Kepada anak-anak, Cak Nur juga memiliki pendekatan yang personal. Bahkan untuk salat, Cak Nur memilih untuk memberi contoh dan tidak menyuruh, apalagi memaksa mereka. Saat masih kecil, salah satu anak merajuk dan tidak mau salat, kemudian Bu Omi menyampaikannya kepada sang ayah. Kata Cak Nur, “Tidak usah dipaksa. Kita beri contoh saja. Suatu saat dia akan merasa kecewa dan menyesal telah meninggalkan salat. Saat itulah dia menemukan Tuhan.”

Bagi Cak Nur, living by example adalah pilihan yang dijalankan secara konsisten hingga akhir hayat. Saat dirawat di rumah sakit, dalam kondisi yang sudah lemah, yang disampaikan Cak Nur kepadaBu Omi  adalah kepedulian kepada bangsa ini. Keprihatinan terhadap penyimpangan di negara ini terus beliau suarakan hingga ajal menjemput. 

Semoga Allah memberikan tempat istirahat abadi yang luas bagi beliau, tempat yang bersih dari segala kecurangan, fanatisme, kebekuan pemikiran, dan kemiskinan intelektual. Semoga para pencinta Cak Nur tetap kuat meneladani dan melanjutkan perjuangan beliau mewujudkan Islam yang rasional, inklusif, dan humanis. 

Semoga kita semua berkesempatan menimba pemikiran dan pesan perjuangan Cak Nur melalui buku-buku, pemikiran, dan keteladanan beliau. 


14 Juni 2025, salam takzim, 
Anna Farida

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *